Membudayakan Peduli Sejak DiniOleh : Hera Wahyuningtyas PangastutiPeduli, salah satu kata kerja yang memiliki arti mengindahkan, memerhatikan, menghiraukan. Kata peduli sudah terlalu awam untuk didengar, terlebih dalam kehidupan yang semakin modern sepert

Membudayakan Peduli Sejak Dini Oleh : Hera Wahyuningtyas Pangastuti Peduli, salah satu kata kerja yang memiliki arti mengindahkan, memerhatikan, menghiraukan. Kata peduli sudah terlalu awam untuk didengar, terlebih dalam kehidupan yang semakin modern seperti saat ini. Terlalu terbiasa indera pendengaran ini menangkap suara-suara orang menyebutkan kata peduli. Di dalam berbagai jenis kata dalam Bahasa Indonesia, peduli termasuk kata kerja dimana bila diucapkan menunjukkan suatu perbuatan atau tindakan. Namun, apakah peduli sudah lebih dari sebuah kata kerja? Lebih dari sebuah kata, sebenarnya bisa menjadi sebuah tindakan yang memiliki pelajaran bermakna. Sudah dijelaskan sebelumnya mengenai arti kata peduli, dapat diketahui peduli memberi arti sebuah tindakan yang tidak bisa dilakukan sendirian atau individu. Untuk peduli, minimal seorang memerlukan objek lain untuk ‘dipedulikan’. Sebaliknya, agar kita ‘dipedulikan’ maka harus ada objek lain yang memedulikan atau memerhatikan kita. Dalam pemahaman lain, tindakan peduli memberi pelajaran sebagai makhluk sosial untuk tidak berpaham individualisme. Sejalan dengan arus globalisasi dan modernitas yang semakin maju, diikuti dengan teknologi yang semakin canggih menimbulkan fenomena – fenomena sosial di sekitar lingkungan kita. Dimana fenomena sosial tersebut dapat memengaruhi kebudayaan masyarakat. Khususnya kebudayaan masyarakat Indonesia. Budaya masyarakat saling membantu, prihatin, dan saling peduli. Peduli, menjadi salah satu kebudayaan masyarakat tradisional Indonesia. Masyarakat yang masih memegang teguh tradisi dan tinggal di daerah, masih memiliki rasa peduli yang tinggi. Fenomena – fenomena sosial yang kian merasuk dalam kebudayaan masyarakat tradisional, dan hal tersebut tak bisa diingkari oleh setiap makhluk di muka bumi. Dari faktor keuntungan, kemajuan teknologi dan globalisasi memberi banyak makrifat dan manfaat bagi banyak pihak. Namun, dari faktor keburukan terdapat beberapa dampak negatif yang berjalan beriringan dengan dampak positif. Masyarakat bersifat individualis, berpikir pendek, dan kurang peduli. Dampak – dampak seperti inilah yang seharusnya menjadi koreksi bagi berbagai pihak yang turut merasakan globalisasi. Untuk itu tindakan peduli perlu dilakukan, untuk menghindari dampak negatif dan meraih hal positif dalam globalisasi. Adanya pendidikan dini mengenai kepedulian bisa menjadi penangkal awal terhadap dampak negatif dari derasnya arus globalisasi dan kemajuan teknologi. Rasa peduli yang dapat ditanamkan sejak dini meliputi: 1. Peduli bangsa. Bangsa merupakan sebuah kata yang berarti luas. Mewakili sekelompok besar masyarakat, atau golongan. Mengapa bangsa perlu dipedulikan? Bagi individu yang hidup di sebuah bangsa, seharusnya ia turut memedulikan bangsanya. Peduli untu berpikir lebih dewasa, dan lebih mengerti lingkungan sekitarnya. Dengan sikap peduli bangsa inilah, setiap individu dalam sebuah bangsa dapat saling mengerti bangsa, memiliki satu tujuan, yakni untuk memajukan bangsa bersama – sama. Peduli bangsa juga meliputi segala sesuatu yang ada pada bangsa tersebut. Termasuk budaya serta sejarahnya. Peduli pada budaya yang dimiliki bangsa. Melestarikannya, memperlajarinya, dan mengambil pelajaran berharga dari hal baik tersebut. Peduli pada sejarah bangsa. Mengetahui dan memahami sejarah bangsa yang telah melahirkan kita. Menghargai sejarah tersebut serta meneladani nilai perjuangan pendahulu yang sangat berani dan gigih. 2. Peduli lingkungan bermasyarakat. Memedulikan lingkungan sekitar, menelaah dan menjalin komunikasi baik. Memperhatikan suatu yang unik, dan sarat akan makrifat yang dapat kita jadikan sebagai pengalaman baru. 3. Peduli sesama. Usia remaja, dengan kegiatan bersosialisasi antar teman juga sebagai cerminan perilaku peduli. Peduli sesama juga patut ditanamkan sejak dini. Agar seorang dapat menghargai sesama selayaknya. Memperbaiki hubungan antar individu, dan terus menjalin komunikasi yang baik. 4. Peduli keluarga. Keluarga adalah dasar pendidikan seorang dalam hidupnya. Karena hanya keluarga yang mampu mendidik seorang anak menjadi individu yang cerdas, tangkas, peduli, berbudaya, dan berilmu dengan akhlak yang mulia. Faktor keluarga yang kurang mampu memberikan pendidikan dasar kepribadian pada anaknya, akan memperngaruhi kehidupan anak tersebut di kemudian hari. 5. Peduli diri sendiri. Dalam diri kita terdapat beberapa kepribadian terpendam. Sifat asli bawaan lahir seperti; akhlak, watak, dan perasaan. Sifat asli yang dikembangkan dengan kebaikan dan nilai positif kehidupan, dapat menghasilkan individu berkualitas. Mengapa diri sendiri perlu dipedulikan? Karena, sebelum orang lain peduli terhadap kita, sebaiknya kita memperlihatkan suatu kemampuan yang patut khalayak perhatikan, hargai dan nilai. Maka dari itu sikap peduli dan tanggap pada diri sendiri juga perlu untuk memotivasi diri menjadi lebih baik. Tindakan kepedulian selayaknya telah ditanamkan sejak dini. Hal ini dapat memengaruhi sifat, dan kepribadian penerus bangsa. Rasa peduli akan membuat setiap individu menjadi peka, mudah mengerti, dan tanggap terhadap berbagai perubahan lingkungan. Sikap peduli juga dapat membuat orang di sekitar kita dapat memercayai kita, dan nyaman dengan keberadaan kita. Dengan pendidikan dini mengenai kepedulian terhadap sesama, individu baru akan lahir dengan kualitas yang baik, berkompeten, dan dapat diandalkan. Maka dengan pendidikan peduli sejak dini dan berkarakter yang dibudi dayakan pada masyarakat akan berdampak baik bagi banyak kalangan. Dengan membudi dayakan pendidikan peduli sejak dini, maka kata peduli tidak hanya menjadi sebuah kata di dalam sebuah kamus. Namun, kata peduli dapat menjadi sebuah tradisi yang secara implisit dapat mengarahkan generasi penerus bangsa ini menjadi lebih baik, serta dapat memberi makna kehidupan tanpa sebuah kiasan. Tanpa harus mengubah banyak hal dalam sektor pendidikan, dengan menanamkan pendidikan dasar yang baik disertai akhlak mulia dapat dengan mudah menunjang pembelajaran di kemudian hari. Dengan konsep berpikir luas, menelaah, dan berperilaku sesuai norma yang berlaku, akan mengarahkan para pemuda tangguh pada masa depan cerah dan gemilang. Telah banyak dipaparkan di atas, bahwa peduli dapat sangat bermakna dalam kehidupan. Untuk pengembangan diri dalam lingkup sosial yang luas, sikap peduli tidak akan lepas dari diri seorang. Karena pada dasarnya, setiap individu membutuhkan kepedulian. Sama seperti kita, generasi yang tidak bisa diingkari suatu hari nanti kita akan menjadi pemimpin suatu bangsa. Memikirkan suatu kelompok besar, hidup bersama orang yang kita cintai. Bukankah Tuhan juga peduli terhadap makhlukNya? Jadi apakah kita sesama makhlukNya akan saling berpaling terhadap kewajiban bersama? Tentu tidak mungkin jika kita akan berpaling dari kewajiban tersebut. Oleh karena itu, mari kita wujudkan pribadi peduli. Mulai peduli dari diri kita sendiri, hingga peduli akan nasib bangsa ini. Terus berjuang dengan kemampuan masing – masing. Saling bantu – membantu, bergotong – royong. Dan tidak lupa untuk terus berdo’a pada Tuhan, agar segala usaha kita akan menghasilkan hal yang baik. Tulisan ini tak begitu sempurna, tetapi semoga ini dapat lebih bermakna. Karena saya mencoba untuk mulai peduli. Peduli kepada sesama. Melalui hal kecil berupa tulisan. Serta melalui tindakan kecil berupa PRAMUKA.
Hera Wahyuningtyas Pangastuti's picture
from Indonesia, 6 years ago
Are you sure you want to delete this?
Welcome to Scout.org! We use cookies on this website to enhance your experience.To learn more about our Cookies Policy go here!
By continuing to use our website, you are giving us your consent to use cookies.