Berdamai dalam PerbedaanBerbicara tentang perdamaian, yang terbesit dalam pikiran saya adalah kebersediaan. Kebersediaan untuk mau mengalahkan. Lho, kok mengalahkan? Bukankah makna perdamaian yang selama ini kita ketahui adalah tidak adanya peperangan yan

Berdamai dalam Perbedaan Berbicara tentang perdamaian, yang terbesit dalam pikiran saya adalah kebersediaan. Kebersediaan untuk mau mengalahkan. Lho, kok mengalahkan? Bukankah makna perdamaian yang selama ini kita ketahui adalah tidak adanya peperangan yang berarti tak ada lagi pihak mana yang menang dan mana yang kalah. Ya, mengalahkan yang saya maksud adalah mengalahkan ego diri sendiri. Mengalahkan kehendak diri untuk menjadi ‘paling’ di antara yang lain. Tuhan itu Maha Keren kok. Ia begitu kreatif dalam menciptakan kita sebagai hambaNya. Kita tercipta dengan perbedaan masing-masing. Satu sama lain memang tidak bisa disamakan. Jika kita tetap berpikir sebagai “saya”, tentulah ego yang akan selalu dikedepankan. Namun jika kita mau untuk berpikir sebagai kita, segala perbedaan itu dapat kita tepis. Seperti pengalaman sekitar dua bulan kemarin yang cukup mengubah diri saya. Hampir dua bulan saya harus tinggal di tempat yang baru. Tentu dengan lingkungan dan budaya yang baru pula. Adat istiadatnya pun sangat berbeda dengan adat istiadat yang saya junjung selama ini. Saya memang terlahir sebagai suku Jawa tulen, dan dua bulan kemarin saya tinggal dan menyatu dengan orang-orang Suku Sasak asli. Tentu terbayang dong bagaimana perbedaan kami kala itu. Mulai dari segi kebiasaan maupun bahasa kami sangat berbeda. Namun yang saya salut dengan mereka yang di sana adalah meski mereka –yang berusia paruh baya ke atas- sulit berucap dengan Bahasa Indonesia, namun mereka tetap berusaha tersenyum kepada saya. Saya bahagia, berarti kedatangan saya mendapat sambutan yang lebih bagi mereka. Baiklah, itu pengantar pengalaman saya di sana. Lebih lanjut lagi, saya di sana mempunyai adik-adik lucu di kelas 5 SD N 02 Tetebatu, Lombok Timur. Hamper semua guru melabeli kelas 5 sebagai kelas paling ‘berbeda’ dengan kelas lain. Berbeda yang dimaksudkan adalah banyaknya anak-anak yang “nakal” di sana. Ada dua anak yang tinggal kelas dan ditambah anak lulusan dari kelas 4 yang juga terkenal nakalnya. Dari perbincangan pertama dengan guru-guru di sana, hampir semua guru angkat tangan menghadapi mereka. Ada satu guru yang harus main pukul agar mereka mau diatur, da nada satu guru yang memang dipilih oleh anak-anak untuk menjadi wali kelas mereka. FYI, mereka diberi kebebasan memilih karena hampir semua guru yang masuk di kelas sering disepelekan oleh murid-murid. Mendengar kisah ini, saya menjadi tertantang untuk masuk di kelas tersebut. Seperti dugaan saya pertama, mereka ramai sekali dan susah untuk diatur. Bahkan mereka sering kali berucap bahasa Sasak kepada saya dan satu rekan saya, dan baru sekitar satu Minggu kemudian saya menyadari bahwa kata yang mereka keluarkan adalah kata-kata yang tidak pantas untuk diucapkan. Ketika saya mengajarkan berhitung dalam Bahasa Inggris, beberapa dari mereka mengikuti. Tapi ada satu hal yang membuat saya miris yaitu adanya pembulian di kelas tersebut. Bahkan siapapun yang dekat dengan kami, seakan-akan akan menjadi musuh bagi ‘genk’ mereka. Pelajaran pun usai, namun tak lantas membuat semangat mengabdi saya usai pula. Saya menjadi tertantang untuk menelisik lebih dalam mengenai motif seperti apa yang membuat mereka seperti itu. Mulai dari wawancara dengan guru, dengan warga, bahkan hingga pendekatan secara personal dengan mereka saya lakukan. Yang menakjubkan, ketika mereka bertemu dengan saya secara pribadi, mereka menjadi sosok yang menyenangkan layaknya anak-anak pada umumnya. Namun memang secara emosi mereka lebih labil dan mudah tersinggung. Kalian tahu, apa yang membuat mereka seperti itu? Perbedaan. Ya, mereka merasa berbeda dengan yang lain. Apalagi dengan saya. Secara keutuhan keluarga, hampir semua anak-anak yang dicap nakal berasal dari keluarga yang tidak utuh -FYI, Sebagian besar penduduk di sana bekerja sebagai TKI di Malaysia dan kasus kawin cerai di sana sangat tinggi- maka kebanyakan dari mereka tinggal bersama papuk (sebutan bagi nenek dan kakek di sana). Bisa dibayangkan bagaimana pola asuh yang mereka dapatkan di sana, bukan perhatian yang mereka dapatkan tapi justru kebebasan yang mereka terima. Itu fakta pertama. Fakta kedua adalah mereka susah menerima perbedaan secara adat istiadat maupun kepercayaan. Bagi mereka yang semua muslim, kurang bisa untu menerima agama lain untuk masuk di sana. Termasuk pula pengetahuan tentang beragamnya pulau di Indonesia mereka kurang memahami. Alhasil, beberapa dari tindakan kami mendapat protes dari mereka. Contoh kecil saja, adanya foto perempuan tak berjilbab di handphone saya kala itu dikatakan ‘haram’ oleh mereka. Nah, dari dua fakta ini kemudian saya mencari akal untuk bisa berdamai dengan mereka. Saya mencoba menjadi kakak yang baik bagi mereka. Kasih sayang dan dianggap ada itulah yang mereka butuhkan saat itu. Bukan pelajaran matematika ataupun bahasa Inggris. Akhirnya, konsep belajar mengajarpun saya rubah menjadi lebih menyenangkan. Saya ceritakan tokoh-tokoh teladan, saya ajarkan bernyanyi dan tepuk, hingga saya ajak mereka untuk terlibat langsung dalam membuat taman kelas. Ternyata, dengan pendekatan-pendekatan seperti itu mereka menjadi ‘mau’ untuk menerima kami. Hingga akhirnya mereka benar-benar menganggap kami sebagai kakak mereka. Setiap kali bertemu, saya jabat tangan mereka, saya belai kepala mereka seraya berdoa agar kelak mereka menjadi orang-orang yang hebat,lalu saya ucapkan harapan saya ke mereka. Lama-kelamaan kebiasaan ini menjadikan kami semakin dekat. Senyum kecut dulu, kini telah berubah menjadi senyum manis dari mereka. Suasana kelas yang riuh pun lamakelamaan menjadi tenang dan damai. Dan yang cukup membuat saya trenyuh adalah ketika ada satu orang anak yang berkata, ”Kak, Kakak itu sudah saya anggap seperti kakak kandung saya. Maafkan saya yang dulu selalu memusuhi Kakak. Saya ingin kelak bisa menjadi seperti kakak. Mau sekolah tinggi.” Dari sini saya belajar, andaikan dari awal saya tetap pada ego saya dan tak peduli kepada mereka. Tentu keadaan tak akan berubah seperti ini. Dulu saya sempat berpikir, yang penting adalah saya melakukan untuk mendapatkan nilai. Namun ternyata keadaan yang membuat saya berpikir lain. Ego itu harus dikalahkan. Saya harus bersedia melayani mereka, memberikan senyuman ke mereka, mau berdamai dengan mereka, memberikan semangat hidup bagi mereka. Mereka tak lagi berpikir lulus sekolah menjadi TKI, tapi mereka kini berpikir lulus sekolah harus melanjutkan ke jenjang-jenjang berikutnya bahkan menjadi sarjana. Mereka pun saya nilai mau untuk mengalahkan ego mereka. Mereka bisa menerima kami dengan menghilangkan stigma ‘perbedaan’ yang ada. Nah, mereka yang bisa dibilang jauh dari kemajuan teknologi saja bersedia untuk mengalahkan ego mereka. Tentu kita sebagai orang-orang yang lebih beruntung harus mau untuk lebih dari mereka. Selalu bersedia berbagi senyuman, kebahagiaan, dan kenyamanan kepada setiap insan. Dengan begitu, perdamaian yang hakiki dapat tercipta. Klaten,12 September 2014
Imagen de Tri Mardiana (11948)
from Indonesia, hace 6 años
Are you sure you want to delete this?
Welcome to Scout.org! We use cookies on this website to enhance your experience.To learn more about our Cookies Policy go here!
By continuing to use our website, you are giving us your consent to use cookies.