The Scout.org website uses "cookies", both internal and from third parties. Cookies are small text files placed on your end user device and help us to distinguish you from other users, to enhance your experience on scout.org. If you continue, we'll assume that you are happy to receive cookies on our website. You can change your browser's cookie settings at any time. To find out more about how we use cookies and how to manage your browser settings read our Cookies Policy.

Update

 

  • 29th Oct 2013

Orang tuaku adalah orang pertama yang mengenalkan aku pada buku cerita, pada saat itu aku belum bisa membaca. Jadi merekalah yang membacakan buku-buku itu. Saat usia 5 tahun aku diberikan keajaiban bisa membaca, sebuah kemampuan yang tidak umum saat itu karena Taman Kanak-Kanak dan PAUD belum menjamur seperti sekarang ini. aku memiliki sahabat yang suka sekali membaca, koleksi komik dan buku ceritanya lengkap. Dari situ aku mengenal komik-komik. Yang menjadi komik favorit saat itu adalah komik Detektif Conan.
Gara-gara Detectif Conan itulah aku jadi anak yang read-addictid. Sehari tak membaca serasa menggigil semua badanku.. Sampai-sampai sobekan kertas koran pembungkus gorengan aku baca habis di setiap sarapan pagi. Melihat kegilaan ku membaca, agar lebih terarah orang tuaku berlangganan majalah anak-anak dan majalah remaja ketika aku menginjak usia SMP.
Sejak itu aku kenal Roy.
Membaca Balada si Roy seperti membaca sebagian hidupku. Episode hidupku mengalir seperti episode-episode Roy. Hinga aku merasa diriku adalah Roy.
Terlahir satu-satunya di keluarga, aku dididik menjadi anak manja. Roy kemudian meracuniku, ia membuatku menjadi pemberontak dan meledak-ledak, menjadi seorang lelaki yang tidak selalu berlindung diketiak mamanya, menjadi petualang yang jarang pulang ke rumah, menjadi laki-laki bandel yang tak kunjung menyelesaikan kuliahnya karena sibuk naik turun gunung. Menjadi seorang Pramuka dan menulis semua petualangannya di buku harian dan mengkonversinya menjadi cerpen dan puisi yang tak pernah aku publikasikan.

Hari ini setelah 22 tahun, aku bongkar lemari dan aku temukan bundel Kumpulan Balada Si Roy yang aku sobek dari majalah HAI masih tersimpan, beberapa buku Si Roy yang tersisa juga masih tersimpan. Hari ini aku kembali tersengat spirit Roy, mencoba kembali merasa muda. Lantas apakah aku masih akan melihat diriku dalam sosok Roy dan bisa memutar ulang kembali masa laluku. Dan hari ini aku mencoba kembali membaca, membaca, membaca. Aku memutuskan untuk menjadi relawan membaca, menjadi seorang PRABUHIS . Membaca semua yang bisa aku lihat, dengar dan rasakan, kemudian menuliskannya dalam sebuah karya.

Comments (2)

keren


What an inspiring leader!